Banjir
merupakan kata yang sangat popular di Indonesia,
khususnya pada musim hujan, mengingat hampir semua
kota di Indonesia mengalami bencana banjir. Peristiwa
ini hampir setiap tahun berulang, namun sampai
saat ini belum terselesaikan bahkan cenderung
makin meningkat, baik frekuensinya, luasannya,
kedalamannya, maupun durasinya.
Jika dilihat, akar permasalahan banjir di perkotaan
berawal dari pertambahan penduduk yang sangat
cepat akibat urbanisasi (baik migrasi musiman
maupun permanen). Pertambahan penduduk yang tidak
diimbangi dengan penyediaan prasarana dan sarana
perkotaan yang memadai mengakibatkan pemanfaatan
lahan perkotaan menjadi semrawut. Pemanfaatan
lahan yang tidak tertib inilah yang menyebabkan
persoalan drainase di perkotaan menjadi sangat
kompleks. Hal ini barangkali juga disebabkan oleh
tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah
dan tidak peduli terhadap permasalahan yang dihadapi
oleh kota.
Permasalahan lain yang dihadapi dalam pembangunan
drainse adalah lemahnya koordinasi dan sinkronisasi
dengan komponen infrastruktur yang lain. Sehingga
sering dijumpai tiang listrik di tengah saluran
drainase dan pipa air bersih (PDAM) memotong saluran
pada penampang basahnya. Sering juga dihadapi
penggalian saluran drainase dengan tak sengaja
merusak prasarana yang telah lebih dulu tertanam
dalam tanah karena tidak adanya informasi yang
akurat, arsip/dokumen tidak ada, atau perencanaan
dan pematokan di lapangan tidak melibatkan instansi
pengendali tata ruang.
sumber: Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan
oleh D. Ir. Suripin, M.Eng
|